Latest News
Senin, 23 April 2012

Sarkofobia Melanda Prancis

Image
TB Indonesi news - NICOLAS Sarkozy bukanlah sosok populer di kalangan masyarakat Prancis, meski menduduki jabatan sebagai presiden republik itu. Sebagian besar pemilih bahkan memilih memalingkan muka dari presiden konservatif itu pada pemilu putaran pertama yang digelar hari ini. Sebagian besar warga mengaku sudah muak terhadap Sarkozy. Padahal, di kancah internasional, ayah empat anak itu adalah tokoh penting selama lima tahun terakhir dengan memimpin respons Eropa terhadap krisis finansial global, memimpin aksi militer Barat ke Libya, dan bekerja dengan kemitraan dekat dengan Kanselir Jerman Angela Merkel untuk menangani krisis zona euro.

Namun, ketokohannya di kancah internasional tak cukup membantunya populer di dalam negeri.Gaya kepemimpinan Sarkozy dianggap terlalu vulgar dan dia sering dikritik karena terlalu dekat dengan kalangan orang kaya.Itu kemudian ditambahi kemarahan rakyat atas pengangguran dan perekonomian yang buruk. “Ada penolakan yang sangat mendalam terhadap Nicolas Sarkozy,”ujar seorang mantan politikus konservatif yang meninggalkan partai berkuasa UMP tahun lalu, kepada Reuters.

“ Pemilu ini adalah tentang penolakan terhadap orang ini, pemerintahan yang ada dan arogan ini.” Penolakan terhadap Sarkozy bahkan terlihat jelas dalam pemberitaan media massa. Media Prancis mencatat fatalisme Sarkozy, dengan koran sayap kiri Liberationmenulis bahwa dia terlalu berlebihan memainkan ketenangannya dengan mengunjungi markas penyelamatan laut angkatan laut sementara moral tentaranya sudah tenggelam selama berhari- hari. Sarkozy telah ditinggalkan beberapa sekutu dan dikepung media yang biasanya mendukung pemerintah.

Beberapa mantan sekutu Sarkozy bahkan mengaku bakal memberikan suara untuk rivalnya,Francois Hollande dari Partai Sosialis, pada pemilu hari ini. Mereka yang bakal memberikan suara untuk Hollande termasuk mantan menteri junior urusan perencanaan kota Fadela Amara, mantan komisaris tinggi kepemudaan Martin Hirsch, dan Brigitte Girardin,mantan menteri di bawah presiden Jacques Chirac.

“Ada kebencian yang tidak rasional terhadap Sarkozy di tengah publik yang memainkan peranan besar pada pemilu kali ini,”ujar Jean-Sebastien Ferjou yang mengedit berita situs Atlantico, kepada BBC. “Saya bilang tidak rasional karena memang begitu. Jajak pendapat memperlihatkan kalau Anda bertanya kepada orang mengenai kebijakan Sarkozy yang ini atau itu–tanpa menyebutkan namanya–mereka biasanya mendukungnya.Namun, mereka masih tidak akan memberikan suara untuk dia.”

Kevulgaran Picu Kebencian

Menurut Ferjou,alasan utama kebencian itu adalah karena Sarkozy adalah pemimpin pertama Prancis yang tak malu- malu mendeklarasikan diri sebagai pendukung sayap kanan. “Ironis karena nyatanya, secara ideologi,dia sama sekali tak berstruktur. Talentanya adalah untuk energi dan gerakan dan mustahil menyebutkan dari mana sejarah intelektualnya datang,”papar Ferjou.

“Namun, dia mengirimkan pesan yang sangat jelas bahwa dia tidak malu mengatakan dia adalah sayap kanan dan itu memicu kebencian.” Yang harus dipahami adalah, bahwa selama bertahuntahun sayap kanan di Prancis telah benar-benar meninggalkan debat intelektual kepada sayap kiri.“Bagi partai yang disebut sayap kanan, satu-satunya argumen yang mereka bawa adalah mereka adalah manajer yang lebih baik ketimbang kiri. Mereka bisa menjalankan semua hal dengan lebih baik. Namun, mereka menyerah dalam perang ide dan nilai. Sarkozy mengakhiri kompleksitas itu dan orang membencinya.

” Irama Sarkofobia–fobia Sarkozy–ini muncul di kafekafe dan budaya salon kaum borjuis Paris, di mana Sarkozy sering dilihat sebagai sosok vulgar, terobsesi uang, agak rasis,dan berbahaya. Baru-baru ini sutradara film Mathieu Kassowitz memaparkan, kalau Sarkozy sampai lolos ke putaran kedua pemilu, itu menunjukkan bahwa Prancis adalah negara kolaborasionis neofasis. Dalam sebuah wawancara, entertainer Christophe Aleveque memaparkan bahwa Sarkozy itu berbahaya,berasal dari planet lain,orang bodoh yang mempercayai kebohongannya sendiri, dan secara psikologis tidak normal.

“Kalau dia begitu mencintai uang, itu biasa, tapi itu masalah dia,jadi boleh saya sarankan agar dia bekerja di bank atau tempat lain. Dan, tinggalkan kami!”ujar dia. Menurut pengacara sayap kanan dan pakar polemik Gilles- William Goldnadel, akar anti-Sarkozy itu berada di budaya publik yang masih menjadi budak daya pikat sayap kiri. “Itu adalah tradisi kuno– revolusi, romantisme– yang akan menyerang apa pun terkait uang atau kehormatan,” papar dia.

“Dan, itu dibarengi profesi jurnalistik yang mendukung sayap kiri.Jajak Survei menunjukkan bahwa 80–95% jurnalis adalah pendukung sayap kiri atau kiri jauh; dan dengan fokus obsesif mereka terhadap apa yang disebut perwakilan Sarkozy, mereka mendorong agenda yang sama.” Interpretasi lain terhadap Sarkofobia ditawarkan penulis La Chasse au Sarko (Perburuan Sarko) Andre Bercoff.Menurut dia, alasan nyata ketidaksukaan orang terhadap presiden itu bukanlah pada gaya hidup bling-bling-nya atau lainnya, tapi karena dia melanggar peraturan bagaimana menjadi presiden.

“Ketika (Charles) de Gaulle mendirikan Republik Kelima (Prancis), dia menciptakan kepresidenan yang sangat mirip seperti monarki. Dan, sejak saat itu, semua presiden, baik dari kanan maupun kiri, menikmatinya,” ujar dia. “Tapi kemudian datanglah Sarkozy yang mengatakan tak mau jadi presiden,dia mau jadi politikus dan ingin seperti pelatih sepak bola.Dan,orangorang benar-benar membencinya karena itu
 


 Sindo 


  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Item Reviewed: Sarkofobia Melanda Prancis Rating: 5 Reviewed By: Register Center